Rabu, 25/04/2012
Waspadai 6 Ancaman Bisnis Properti
PENULIS : Hikmatul Adrianto

Plasadana.com - Maraknya iming-iming keuntungan bisnis properti jangan sampai membuat terlena. Tak ada bisnis tanpa risiko. Waspadai enam hal di bawah ini sebelum terjun ke bisnis properti agar tidak jadi buntung atau beban, apalagi Bank Indonesia sudah menaikkan beban uang muka.

Banyak yang menganggap bisnis properti untung dengan formula: membeli rumah dengan cara kredit, kemudian dikontrakan. Seolah-olah, beban biaya bayaran tiap bulan pindah ke penerima jasa kontrakan.

Keuntungan lain yang diperoleh adalah aset properti tersebut. Jadi tanpa membayar, diperkirakan bisa memiliki aset tersebut setelah kredit lunas. Apalagi nilai asetnya sudah naik. Apakah semudah itu?

Untuk mengingatkan, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai agar bisnis properti benar-benar bisa menguntungkan sesuai harapan.

Aset tidak likuid

Kenalilah bahwa properti bukan termasuk aset yang likuid. Maksudnya, aset yang tidak cepat bisa dicairkan seperti uang tunai atau koin emas.

Untuk mengubah properti jadi uang tunai yang bisa dipertukarkan, tentu kita harus menjualnya dulu. Mengingat harganya yang mahal, butuh waktu lama untuk memindahkan kepemilikannya ke orang lain agar kita dapat tunai.

Beban suku bunga pinjaman

Saat ini, suku bunga bersih atau selisih antara suku bunga pinjaman dan tabungan di Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Yakni, bisa mendekati 6 persen. Imbauan Bank Indonesia agar suku bunga kredit diturunkan, nyaris tak terdengar. Padahal, Bank Indonesia terbilang sering menurunkan suku bunga acuan.

Dalam bisnis properti berupa kontrakan, perilaku rente perbankan harus diimbangi dengan aktifitas harga kontrakan. Mungkinkah naik beriringan dengan kenaikan cicilan?

Biaya perawatan

Katakanlah Anda tetap mengambil kredit pemilikan rumah. Bagus, seandainya rumah tersebut sudah langsung menghasilkan pendapatan bulanan. Jika belum ada, harus dihitung biaya perawanat bulanan yang dikeluarkan hingga rumah tersebut benar-benar bisa menghasilkan. Jangan-jangan justru jadi beban.

Tentu saja yang dihitung bukan sekadar biaya material. Namun, ongkos beraktifitas merawat rumah plus waktu yang dikeluarkan juga harus dikonversi sebagai biaya.

Promosi

Jika yang Anda beli adalah rumah baru, jangan lupakan biaya mencari konsumen. Baik yang dilakukan memalui iklan, maupun lewat jasa pencari konsumen. Semuanya tetap biaya dan harus dihitung ketika ingin mengkalkulasi hubungan antara pendapatan dengan biaya kewajiban kredit yang harus dibayar.

Situasi ekonomi

Ketika situasi perekonomian membaik, kebutuhan tenaga kerja untuk produksi akan meningkat seiring. Dengan banyaknya orang yang memiliki pendapatan atau meningkatnya penghasilan membuat kebutuhan terhadap tempat tinggal pun naik. Termasuk di dalamnya kebutuhan rumah tinggal sementara alias kontrakan.
Pikirkanlah sebaliknya. Kelesuan situasi ekonomi bisa juga menjadi ancaman pada bisnis properti. Kemampuan dan jumlah penyewa pun bisa turun.

Pajak

Jangan anggap remeh yang satu ini. Kota Bekasi, Jawa Barat, mulai tahun depan memberlakukan pajak rumah kos dan kontrakan sebesar 10 persen. Pendapatan dari persewaan rumah yang sedianya digunakan untuk membayar kredit, bisa tergerus. Bisa-bisa sisa pendapatan Anda makin tipis.
Periksalah satu ihwal ini. Jangan-jangan di tempat Anda berbisnis properti kebijakan ini sudah diberlakukan. Namun ini menjadi tidak penting, jika memang Anda ingin jadi pengemplang pajak kecil-kecilan.

Karena itu, kenali dulu bisnis, baru beraksi.

Share :    
Email To Friend

KOMENTAR





Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.

Nama
Email
Komentar
Isi Captcha