Kamis, 14/06/2012
Manchester United Siapkan IPO di Amerika
PENULIS : Hikmatul Adrianto
Manchester United tunda IPO di Singapura

Plasadana.com - Manchester United, klub sepak bola dengan rekor 19 kali jura liga Inggris, membatalkan rencana penawaran saham perdana (IPO) di Asia, dan memindahkannya ke Amerika Serikat.

Hal ini dilakukan untuk mendapatkan valuasi harga terbaik. Sebelumnya, klub dengan julukan "Setan Merah" ini berencana IPO di Singapura, dengan harapan bisa menarik dana US$ 1 miliar atau Rp 9 triliun. "Sebenarnya belum diputuskan, tapi mulai ada masukan baru untuk IPO di Amerika," ujar sumber Bloomberg.

Kendati demikian, penjamin emisinya tetap Credit Suisse Group AG dan JPMorgan Chanse & Co. Sedangkan Morgan Stanley khusus disewa untuk mencari investor di Singapura. Tapi jika jadi IPO di Amerika, maka kontrak dengan Morgan Stanley batal.

Menurut McCormick dari Bhl & Gaynor, jika Mancherter United masuk bursa Amerika, itu lebih mendekatkannya pada penggemar, serta lebih mudah diraih sahamnya oleh investor global. "Apalagi United sudah menjadi merek global," ujarnya.

Terkait dengan rencana IPO di Singapura, sebenarnya bursa saham di negara tersebut sudah memberikan persetujuan. Namun, guncangan yang terjadi di bursa saat ini membuat United menunda masuk.

Saat ini United memiliki 859 juta penggemar di seluruh dunia, sehingga membuatnya sebagai klub sepak bola ini paling populer. Khusus di China saja, jumlahnya mencapai 108 juta.
http://www.bloomberg.com/news/2012-06-13/manchester-united-said-to-weigh-u-s-ipo-instead-of-singapore.html

Manchester United Siapkan IPO di Amerika

Plasadana.com - Manchester United, klub sepak bola dengan rekor 19 kali jura liga Inggris, membatalkan rencana penawaran saham perdana (IPO) di Asia, dan memindahkannya ke Amerika Serikat.

Hal ini dilakukan untuk mendapatkan valuasi harga terbaik. Sebelumnya, klub dengan julukan "Setan Merah" ini berencana IPO di Singapura, dengan harapan bisa menarik dana US$ 1 miliar atau Rp 9 triliun. "Sebenarnya belum diputuskan, tapi mulai ada masukan baru untuk IPO di Amerika," ujar sumber Bloomberg.

Kendati demikian, penjamin emisinya tetap Credit Suisse Group AG dan JPMorgan Chanse & Co. Sedangkan Morgan Stanley khusus disewa untuk mencari investor di Singapura. Tapi jika jadi IPO di Amerika, maka kontrak dengan Morgan Stanley batal.

Menurut McCormick dari Bhl & Gaynor, jika Mancherter United masuk bursa Amerika, itu lebih mendekatkannya pada penggemar, serta lebih mudah diraih sahamnya oleh investor global. "Apalagi United sudah menjadi merek global," ujarnya.

Terkait dengan rencana IPO di Singapura, sebenarnya bursa saham di negara tersebut sudah memberikan persetujuan. Namun, guncangan yang terjadi di bursa saat ini membuat United menunda masuk.

Saat ini United memiliki 859 juta penggemar di seluruh dunia, sehingga membuatnya sebagai klub sepak bola ini paling populer. Khusus di China saja, jumlahnya mencapai 108 juta.

Forbes: http://www.forbes.com/profile/joseph-safra/

http://www.businessinsider.com/the-story-behind-the-safras-bankings-most-mysterious-family-2012-6?op=1


Misteri Safra (1): Misteri Bisnis Keluarga

Plasadana.com - Dalam catatan Forbes, Joseph Safra adalah bankir terkaya di dunia. Pria dari DInasti Safra yang sudah jaya sejak era Utsmaniya ini, disebut sebagai pria misterius. Bagaimana kisahnya?

Menurut hitungan Forbes, kekayaan pria berusia 73 tahun ini mencapai US$ 13,8 miliar atau Rp 124,2 triliun. Kelompok usahanya adalah Grupo Safra, yang bermarkas di Brasil, tempat Joseph menjadi warga negara.

Safra, sebuah nama bermakna kuning atau emas dalam bahasa Arab. Entah kebetulan atau tidak, mengingat keluarganya di masa lampau, zaman Kerajaan Utsmaniyah, berbisnis emas dalam lintasan perdagangan Timur Tengah.

Namun pada akhirnya, Dinasti Safra makin jaya dan terkenal dengan dengan bisnis perbankan, yang dibangun oleh buyut Joseph Safra. leluhur keluarga campuran Libanon dan Yahudi ini merupakan bankir kepercayaan Keajaan Utsmaniyah, terutama untuk memfasilitasi perdagangan antara Amexandria, Aleppo dan Istanbul.

Ketika Dinasti Utsmaniyah runtuh di awal abad 20, Jacob Safra, ayah Joseph Safra, memisahkan diri dari bisnis keluarga, Safra Freres et Cie. Dia membuka Jacob E. Safra Bank di Beirut.

Edmond Safra, kakak Joseph, ikut dalam bisnis baru tersebut di usianya yang baru menginjak 16 tahun. Dengan cepat, Edmond langsung memegang kendali bisnis di divisi metal.

Pada tahun 1952, Jacob memindahkan markas bisnisnya ke Sao Paolo, Brasil. Baru tiga tahun kemudian, operasional di Brasil resmi dibuka, dengan nama Safra SA, yang saat ini bernama Banco Safra de Investimento.

Tak berhenti sampai di sini, Edmond merambah ke Jenewa, Swiss untuk mendirikan Trade Development Bank. Dengan modal US$ 1 juta, bank tersebut terus tumbuh hingga memiliki aset US$ 5 miliar pada tahun 1980-an.

Amerika jadi sasaran berikutnya. Republic National Bank of New York berdiri. Lagi-lagi sukses besar diraih. Pertengahan tahun 1980-an, bank tersebut ada di urutan ketiga setelah Citigroup dan Chase Manhattan dari segi kuantitas cabang di New York.
-------

Misteri Safra (2): Perang Melawan American Express

Plasadana.com - Keberhasilan Edmond membawa bisnis Keluarga Safra terhenti sejenak. Pada periode jayanya bisnis bank yang dibangun di New York, markas utama bisnis keluarganya, Amerika Latin, tertimpa krisis utang.

Akibat terkena imbas, Edmond terpaksa menjual Trade Development Bank kepada American Express seharga US$ 650 juta. Peristiwa ini menghantuinya selama bertahun-tahun.

Tragisnya lagi, American Express menolak opsi pembelian kembali sahan Keluarga Safra di bank yang sudah dijual itu. Perang pun dimulai.

Edmond mendirikan bank sejenis. Secara langsung berhadapan dengan mantan banknya yang sudah dikuasai American Express.

American Express melakukan kampanye di jagad keuangan, berperang melawan Safra. Pria Libanon ini tak gentar.

Sampai akhirnya, pada tahun 1989, sebuah peristiwa megejutkan terjadi. American Express secara publik meminta maaf kepada Keluarga Safra. Bahkan, bank tersebut juga mendonasikan US$ 8 juta untuk kegiatan amal yang dipilih oleh keluarga Safra.

Edmond yang tidak menikah hingga usianya menginjak 44 tahun, akhirnya menikahi Lily Monteverde, janda kaya di Brasil. Joseph termasuk tidak setuju dengan hubungan Edmond-Lily. Bukan soal uang, melainkan peristiwa bahwa suami Lily meninggal akibat bunuh diri.

"Dia bukan wanita yang cocok untuk Edmond," ujar Joseph.

Rupanya Edmond mendengar nasihat ini. Perkawinan dituntaskan, kemudian Edmond kembali ke New York. Kembali ke kehidupan asal.
-------

Misteri Safra (3): Tongkat Beralih ke Joseph

Plasadana.com - Edmond Safra bertemu kembali dengan Lily Monteverde pada tahun 1972. Dan setelah itu, adalah kisah kematiannya.

Saat bertemu kembali, hubungan keduanya bersemi. Empat tahun kemudian keduanya menikah secara resmi. Keduanya pun hidup dalam kemewahan, dengan aset real estat yang membentang di mana-mana.

Kendati demikian, perilaku religi keduanya muncul di hadapan publik. Edmond menyalurkan kutaan dolar dananya untuk kegiatan keagamaan, pendidikan, budaya, maupun kesehatan di seluruh dunia.

Desember 1999 duka mendalam menyelimuti keluarga Safra. Edmond yang sudah membawa perusahaan keluarga melintas batas negara dan benua, ditemukan meninggal di sebuah rumahnya di Monaco.

Seorang perawat Edmond kena tuding. Dia ditahan atas tuduhan tindakan kriminal dalam aksi pembunuhan terhadap Edmonds. Namun bersamaan dengan itu, banyak rumor beredar.

Ada yang menyebut pembunuhan terhadap Edmond merupakan ulah mafia Rusia. Tapi ada juga yang mengira pembunuhnya adalah lily, istri Edmond itu.

Lily tak terpengaruh dengan kaba sinis itu. Dia tetap meneruskan kegiatan amal sebagai warisan dari suaminya, Edmond. Belum lama ini, melalui rumah lelang Christie, Lily melelang perhiasannya senilai US$ 38 juta. Perhiasan itu disebut sebagai "Jewels of Hope".

Setelah peristiwa ini, bisnis Dinasti Safra dilanjutkan oleh Joseph. Kesuksesan awalnya: memasukan namanya dldalam dafgar Forbe: bankir terkaya di dunia.

Di usianya yang sudah 73 tahun, Joseph tampak bugar dan kuat. Bahkan tahun lalu, dia baru saja membeli Bank Sarasin asal Swedia, senilai US$ 1,1 miliar. Pada saat bersamaan, dia membeli ruang kantor sehaga US$ 285 juta di Madison Avenue.

Share :    
Email To Friend

KOMENTAR





Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.

Nama
Email
Komentar
Isi Captcha