Selasa, 20/11/2012
Trik Negosiasi Ala FBI
PENULIS : Peppy Ramadhyaz

Plasadana.com - Banyak cara untuk bernegosiasi demi menyelesaikan perkara. Tawar menawar dengan lembut atau memberi ultimatum sebagai bentuk negosiasi yang lebih keras, semua tergantung situasi dan tujuan. Yang jelas, semua negosiasi memerlukan analisa psikologi serta kemampuan verbal yang baik dari sang negosiator.

Untuk hal ini, Amerika punya jagonya. Dia adalah Christopher Voss, mantan penyelidik Biro Investigasi Federal (FBI) yang kini menjadi dosen di McDonough School of Business, Georgetown University.

Di biro penegak hukum itu, Voss bertindak sebagai juru negosiasi terutama saat menghadapi kasus penculikan atau penyanderaan. Karena keahliannya, pada 2003-2007 Voss diserahi jabatan kepala negosiator kasus-kasus transnasional di FBI.

Kepada majalah Forbes, Voss menuturkan beberapa teknik negosiasi yang bisa diterapkan di segala situasi secara fleksibel. Menurut dia, negosiasi yang efektif bukanlah menawarkan sesuatu pada lawan (atau klien dalam bisnis).

Namun negosiasi harus didasarkan pada keinginan untuk memberi mereka pilihan. Selain itu negosiator harus memusatkan pikiran pada masalah yang dia hadapi. "Fokuskan pikiran, ibarat meniti tali yang sangat tipis." ujarnya.

Selain itu, ini beberapa tips negosiasi ala FBI yang ditawarkan Voss.

1. Biarkan klien berbicara lebih dulu

Teknik ini berbeda dengan cara para pebisnis, yang biasanya memulai negosiasi dengan presentasi kecil. Voss mengatakan, kebanyakan orang merasa berkuasa setelah banyak bicara dan seolah-olah menguasai sesuatu hal. Namun ia mengatakan pada faktanya kita bisa lebih kuat setelah mengetahui apa yang diinginkan orang lain. Dengan informasi itu, kita bisa menentukan langkah selanjutnya.

[Tujuh Trik Lain Menangkan Negosiasi]

2. Hindari deadline yang kaku

Setelah mengetahui apa yang diinginkan klien, cobalah untuk mengulur waktu. Menurut Voss, jeda waktu ini penting untuk berpikir dan menganalisa apa langkah yang tepat. Selain itu, coba mainkan emosi klien sehingga kita bisa mengetahui kapan saat yang tepat untuk menekan atau melunakkan tawaran.

3. Buat ekspektasi hasil yang realistis

Setelah mengetahui sikap dan sifat lawan (klien), kita seharusnya bisa menaksir sejauh mana tingkat keberhasilan negosiasi. Jika sudah mengetahuinya, ambil keputusan dengan resiko terkecil. Voss mengumpamakan negosiasi kasus penculikan. Saat polisi mengetahui lawan cukup nekat dan bersenjata lengkap, mereka akan memilih untuk mengabulkan sebagian tuntutan agar sandera dilepaskan. Namun setelah sandera lepas, polisi akan mengejar dan melumpuhkan si penjahat dengan berbagai cara.

Share :    
Email To Friend

KOMENTAR





Mohon memasukkan nama, email dan komentar anda apabila ingin memberikan komentar. Kami tidak bertanggung jawab atas segala isi dari komentar yang anda kirimkan.

Nama
Email
Komentar
Isi Captcha